Buku Itu Menggairahkan

Salam kenal, namaku Diana, kutu baru di sini :). Tetapi orang-orang biasa memanggilku dengan An / Di / Andi /D. Terserah kalian akan memanggilku bagaimana? :).

Ingin sedikit berbagi mengenai kecintaanku terhadap buku. Bagaimana sebuah buku bisa membuatku lupa waktu sampai lupa makan :D.

Sejak usia balita, seingatku, Bapak dan Mama sering membelikan aku buku. Mulai buku cerita, menggambar, menulis, hingga Ensiklopediku Yang Pertama sebanyak 24 jilid yang diterbitkan oleh Glolier dan didistibusikan oleh PT. Widyadara. Mama membelikannya pada tahun 1988. Awet hingga sekarang :)

Seiring aku bertumbuh kembang, bacaanku semakin bervariasi. Majalah remaja, novel, koran, dan bahkan brosur yang kudapat dari mal juga kubaca. Aku selalu mempelajari gaya bahasa yang dipakai oleh si penulis.

Oh ya, novel pertama yang kubaca adalah Jejak Jejaka karya mbak Zara Zettira ZR lho :P Aku ingat sekali, saat itu tahun 1989, aku berdua Mama pergi ke Gramedia dan tiba-tiba Mama membelikan aku novel itu! Girang banget deh! Soalnya Mama pernah bilang, kalau  aku sudah ‘dewasa’, maka aku akan mendapat hadiah. Ehm, ‘dewasa’ ini maksudnya haid pertama kali. Hihihi… Selain novel itu, aku juga dibelikan majalah GADIS untuk pertama kalinya. Superb!

Ketagihan membaca novel, membuatku mulai mengoleksi novel lain. Lupus, bacaan wajib ketika itu. Hits! Balada Si Roy juga ya? Kemudian ketika aku SMU, mulai deh novel Danielle Steele kubaca. Tetapi yang versi terjemahan. Dua alasan: Bahasa Inggrisku yang kacau dan harga novel asli yang mahal :)

Saat ini, ada kemudahan membaca sebuah berita/artikel/novel, yaitu e-book. Kecanggihan teknologi memudahkan kita untuk mengunduh dan membaca tanpa perlu membeli bukunya secara fisik. Tetapi, jujur, aku tak menyukai versi digital sebuah buku. Aku lebih suka membaca sambil tiduran, hobiku dari kecil, yang menyebabkan mataku menjadi minus.

Kembali soal e-book, meskipun banyak yang gratis, tetap aku tidak mau. Contohnya? You Are LIKEable karya Jed Revolutia. Jelas-jelas dia menyediakan versi digitalnya gratis, tetapi aku tidak mengunduhnya. Membuka tautannya saja tidak. Aku menunggu bukunya di-launching oleh http://nulisbuku.com dan betapa puasnya aku ketika membaca halaman pertama buku itu sambil tiduran. Nikmat!

Seperti kata kang Hernadi Tanzil, aroma buku itu harum. Kalau istilahku, menggairahkan. Semakin tua usia buku, setelah menguning dan berdebu, semakin seksi. Dapat dipegang, dijadikan teman ketika sendirian di mal, dan menjadi alas kepala untuk tidur (yang ini jangan ditiru!). Pastinya, menjadi hadiah yang istimewa untuk dijadikan koleksi.

Nah, bagaimana menurut kalian, para kutu buku? Sharing dong pengalaman kalian tentang buku yang pertama kali dibaca -selain buku pelajaran sekolah- dan buku favoritmu ya?

Salam!

Comments

comments

4 thoughts on “Buku Itu Menggairahkan

  1. Ahahahaiiy…
    Kalo dibilang kutu buku, engga masuk juga sih.. Tapi kalo suka baca, bisalah.
    Sama spt bunda Di, aku lebih suka buku daripada ebook. Tapi ga bisa dipungkiri sekarang membaca berita buat saya lebih cepat dan praktis melalui smartphone/PC.
    Sebelum sekolah saya sudah “dicekoki” buku oleh orangtua saya. Waktu sekolah saya belajarnya sering SKS *ngaku* tapi suka buku2 yg aneh misalnya astrologi :D.
    Oiya, sejak kelas 6 SD *mulai remaja tp msh ke-kanak2an* saya langganan Fantasy (tabloid anak pertama) dan Majalah Gadis. FYI, saya langganan Gadis 7 tahun dgn uang bekal sekolah.
    Terus karena si GADIS tsb juga saya jadi tahu soal Chicken Soup for the Teenage Soul yg tiba2 happening. Dan, voila.. I’ve got 3 chicken books english version from my pal in France. Tapiii tetep lho yg dibaca duluan Chicken Soup for the Teenage Soul terjemahan pinjam dr teman :D.

  2. Pingback: Alexander7
  3. Pingback: JULIO
  4. Pingback: Derrick

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>