Posted By : diana
In : Bookalicious, Bugs Talk
On Thursday, March 24th, 2011, 6:15 pm

Pada tanggal 18 Maret 2011, terdengar kabar yang kurang mengenakkan untuk para penggiat dan pecinta Sastra. Jujur, aku baru mengetahuinya dari linimasa twitter keesokan harinya, tak sengaja membaca tweet abang Sitok Srengenge mengenai rencana penutupan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin yang terletak di Cikini, Jakarta Pusat.

Maka Bang Sitok pun memberi info seputar Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin (selanjutnya ditulis PDS HBJ) yang dapat kalian lihat di sini. Ini sangat penting untuk kita sadari bersama, bahwa ternyata karya sastra Indonesia itu luar biasa indah dan bernilai sejarah tinggi. Banyak sekali koleksi PDS HBJ yang tak dapat kita temui lagi meski itu di toko buku bekas atau loakan.

Beberapa koleksi itu sempat difoto oleh akun Kotakatak yang dimotori oleh kang Diki Umbara:
1. Karya HB. Jassin lihat di sini
2. Surat Motinggo Boesjo kepada HB Jassin lihat di sini
3. Surat HB Jassin kepada Motinggo Boesjo lihat di sini

Mencuatnya masalah ini kemudian ditanggapi oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang meminta maaf karena lalai mengawasi alokasi dana perawatan dan pemeliharaan koleksi dan ruangan PDS HBJ. Lantas tersiar kabar bahwa salah satu partai politik bersedia mengucurkan dana sebesar yang dibutuhkan untuk menyelamatkan keberadaan PDS HBJ, tetapi langsung ditolak oleh Yayasan. Beritanya dapat dilihat di sini.

Karena rasa cinta yang mendalam terhadap kelangsungan hidup PDS HBJ dan keselamatan sumber karya sastra terbaik Indonesia itulah, maka beberapa penggiat sastra seperti bang Hasan Aspahani di Batam, mas Nanang Suryadi di Malang, bli Putu Fajar Arcana di Jakarta, dan teteh Zeventina di Bandung langsung menggelar acara penggalangan dana yang disebut #KoinSastra.

Kemudian aku mengetahui tentang gerakan #KoinSastra yang akan menggelar Konser kepedulian pada tanggal 13 April 2011 di Bentara Budaya Jakarta dan sejumlah seniman dikabarkan akan ikut serta. Salah satunya adalah Dewa Budjana, yang pertama kali secara spontan menyatakan keinginannya bergabung.

Selain itu, mas Khrisna Pabichara, seorang penyair, mulai mengkoordinir penyelamatan koleksi PDS HBJ. Selain pendataan dan pendokumentasian ulang seluruh koleksi, ada rencana lain yang ditawarkan oleh mas Khrisna, yaitu:
1. #koinsastra merancang kegiatan menggugah minat siswa SMP/SMA menjadikan #PDHBJassin sebagai #wisatabuku, konsepnya 1 sekolah 1 minggu
2. #koinsastra menawarkan bantuan untuk pendokumentasian data sastra seperti kliping, pendataan buku baru, pemindahan data ke komputer
3. #koinsastra mengajak komunitas mana saja untuk aktif menyambangi #PDHBJassin dgn harapan menjadi basis kegiatan literasi.
4. #koinsastra menawarkan digitalisasi data demi menjaga kesinambungan & keamanan data terutama guna mengantisipasi kondisi tak terduga.

Gerakan #KoinSastra membutuhkan banyak relawan. Sila ikuti akun @Khrisnabichara di twitter, karena beliau selalu mengulang info dan tata cara relawan yang ingin bersama-sama menyelamatkan sastra Indonesia.

Pada akhirnya, Penggagas #koinsastra mengucapkan terima kasih atas wujud cinta Anda di Rek. Dana a.n. Zeventina Octaviani Bank Mandiri AC: 131-00-0971505-5 dan Rek BCA KCU Dago No 7770817565 a/n Zeventina Octaviani.

Koin Sastra

Nah, kalian para kutubuku yang baik, apakah yang akan kalian sumbangkan terhadap kelangsungan Sastra Indonesia? :)

Salam!

|1 Comment » |
Posted By : diana
In : Bookalicious
On Thursday, March 17th, 2011, 3:56 pm

Salam kenal, namaku Diana, kutu baru di sini :) . Tetapi orang-orang biasa memanggilku dengan An / Di / Andi /D. Terserah kalian akan memanggilku bagaimana? :) .

Ingin sedikit berbagi mengenai kecintaanku terhadap buku. Bagaimana sebuah buku bisa membuatku lupa waktu sampai lupa makan :D .

Sejak usia balita, seingatku, Bapak dan Mama sering membelikan aku buku. Mulai buku cerita, menggambar, menulis, hingga Ensiklopediku Yang Pertama sebanyak 24 jilid yang diterbitkan oleh Glolier dan didistibusikan oleh PT. Widyadara. Mama membelikannya pada tahun 1988. Awet hingga sekarang :)

Seiring aku bertumbuh kembang, bacaanku semakin bervariasi. Majalah remaja, novel, koran, dan bahkan brosur yang kudapat dari mal juga kubaca. Aku selalu mempelajari gaya bahasa yang dipakai oleh si penulis.

Oh ya, novel pertama yang kubaca adalah Jejak Jejaka karya mbak Zara Zettira ZR lho :P Aku ingat sekali, saat itu tahun 1989, aku berdua Mama pergi ke Gramedia dan tiba-tiba Mama membelikan aku novel itu! Girang banget deh! Soalnya Mama pernah bilang, kalau  aku sudah ‘dewasa’, maka aku akan mendapat hadiah. Ehm, ‘dewasa’ ini maksudnya haid pertama kali. Hihihi… Selain novel itu, aku juga dibelikan majalah GADIS untuk pertama kalinya. Superb!

Ketagihan membaca novel, membuatku mulai mengoleksi novel lain. Lupus, bacaan wajib ketika itu. Hits! Balada Si Roy juga ya? Kemudian ketika aku SMU, mulai deh novel Danielle Steele kubaca. Tetapi yang versi terjemahan. Dua alasan: Bahasa Inggrisku yang kacau dan harga novel asli yang mahal :)

Saat ini, ada kemudahan membaca sebuah berita/artikel/novel, yaitu e-book. Kecanggihan teknologi memudahkan kita untuk mengunduh dan membaca tanpa perlu membeli bukunya secara fisik. Tetapi, jujur, aku tak menyukai versi digital sebuah buku. Aku lebih suka membaca sambil tiduran, hobiku dari kecil, yang menyebabkan mataku menjadi minus.

Kembali soal e-book, meskipun banyak yang gratis, tetap aku tidak mau. Contohnya? You Are LIKEable karya Jed Revolutia. Jelas-jelas dia menyediakan versi digitalnya gratis, tetapi aku tidak mengunduhnya. Membuka tautannya saja tidak. Aku menunggu bukunya di-launching oleh http://nulisbuku.com dan betapa puasnya aku ketika membaca halaman pertama buku itu sambil tiduran. Nikmat!

Seperti kata kang Hernadi Tanzil, aroma buku itu harum. Kalau istilahku, menggairahkan. Semakin tua usia buku, setelah menguning dan berdebu, semakin seksi. Dapat dipegang, dijadikan teman ketika sendirian di mal, dan menjadi alas kepala untuk tidur (yang ini jangan ditiru!). Pastinya, menjadi hadiah yang istimewa untuk dijadikan koleksi.

Nah, bagaimana menurut kalian, para kutu buku? Sharing dong pengalaman kalian tentang buku yang pertama kali dibaca -selain buku pelajaran sekolah- dan buku favoritmu ya?

Salam!

|2 Comments »|