Memang, tidak ada “kriteria” yang bisa menentukan seberapa kutukutubuku nya seseorang. Tapi dengan menjawab beberapa pertanyaan singkat dibawah ini rasanya cukup bisa mewakili:
1. Berapa buku yang dibeli dalam sebulan? Gw beli sekitar 4 buku/bulan. One for each weekend
2. Milih buku berdasarkan: sampul, iklan, pengarang, atau apa? Walaupun gw malu mengakuinya, tapi ya cover yang bagus adalah salah satu faktor gw membeli sebuah buku (can’t help it!). Tetapi faktor utama sih adalah, review/sinopsis di cover belakang buku tsb.
3. Apa tipe novel/buku yang disukai? Favoritku adalah Adventure, Misteri & Science fiction
4. Membaca biasanya dimana? dimana aja ok, tapi terutama gw paling suka baca di tempat tidur sambil tiduran. I know…i know! it’s bad for your eyes. Tapi udah terlajur heheheh.
5. Punya karakter idola dari buku? Kalau karakter favorit sih Harry Potter, kalao karakter idola…hmmm
6. Pernah memanfaatkan perpustakaan, atau lebih suka beli buku? Dulu waktu kuliah sering ke perpustakaan tapi perpus koleksinya dikit, jadi lebih suka nyewa di t4 penyewaan buku. Sekarang sih lebih suka beli, sekalian koleksi.
7. Punya penulis favorit yang bukunya selalu dibaca? Siapa? JK. Rowling
8. Lebih suka nonton filmnya dulu atau baca novelnya dulu? Tentu saja harus baca bukunya dulu! apa serunya baca buku yang kita sudah tau ceritanya? lagipula nanti karakter di film itu akan melengket terlalu erat di pikiran jadi waktu baca buku sudah tdk bebas berimajinasi lagi.
9. Buku terakhir yang dibaca? Pengeran Pencuri
Jadi, apakah kamu seorang kutu? Reveal the bug in you!
|11 Comments »|Selamat ulang tahun yang ke-63 Indonesia tercinta! Dalam kesempatan ini, rasanya cocok untuk mereview sesuatu (buku?) yang berbau nasionalisme. Berpikir tentang sastra dan nasionalisme dan satu kesatuan, rasanya tidak mungkin melewatkan nama penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer
Tetralogi Buru adalah nama untuk empat novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988 dan kemudian dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Pemerintah Indonesia menuduh bahwa karya-karyanya mengandung pesan Marxisme-Leninisme yang dianggap tersirat dalam kisah-kisahnya.
Tetralogi Buru ini mengungkapkan sejarah keterbentukan Nasionalisme pada awal Kebangkitan Nasional, dan pengukuhan atas seorang yang bernama Tirto Adhi Soerjo yang digambarkan sebagai tokoh Minke.
Keempat buku tersebut adalah (disertai tahun penerbitan dan pelarangan)
1. Bumi Manusia (1980; 1981)
2. Anak Semua Bangsa (1981; 1981)
3. Jejak Langkah (1985; 1985)
4. Rumah Kaca (1988; 1988)
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga Dela Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, nertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
Roman ketiga Tetralogi, Jejak Langkah, bercerita tentang sejarah pergerakan dan perkembangan media di Indonesia pada tahun 1906-1910. Menurut Pram–dalam Novelnya–syarikat Priyayilah yang merupakan awal berdirinya organisasi pertama di Indonesia.
Meski demikian Pram juga tak hendak menunjukkan keberhasilan Syarikat Priyayi maupun Budi Utomo. sebaliknya, Pram menyadarkan kita mengapa Belanda bisa bercokol berabad-abad di negeri ini? Karena kekuasaan raja-raja justru menghamba pada Belanda. Mungkin satu-satunya pujian Pram dalam buku Jejak Langkah adalah Pada Perang puputan, Bali. Dimana Belanda harus berkorban sekitar 15.000 tentara melawan rakyat bali.
Pun kegagalan Organisasi juga tak luput dari kritik Pram. Organisasi Budi Utomo terlalu elitis. tak ada rakyat yang bisa jadi anggotanya. anggota Budi Utomo hanyalah kaum Priyayi dan bangsawan belaka (makanya, watak elitis itu dipertahankan hingga sekarang dengan terus mengagung-agungkan Budi Utomo yang dianggap sebagai Kebangkitan nasional. padahal sejatinya perayaan itu adalah kebangkitan kaum priyayi Indonesia).
Meski begitu Jejak langkah juga romantis dengan kisah-kisah Percintaan Minke(tokoh Utama) dengan Aung sang Lie(aktifis tiongkok) dan putri Campa, termasuk juga pengungkapan Pram bahwa Tokoh Utama Tetralogi Pulau Buru adalah Pria Mandul.
Roman keempat Tetralogi, Rumah Kaca, secara garis besar, berkisah tentang usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam memonitor gerakan rakyat Indonesia. Di buku ini terjadi perubahan tokoh utama dari Minke ke Pangemanann, yang adalah seorang Indonesia yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.
Pergulatan hebat terjadi pada tokoh Pangemanan dimana di satu sisi, ia bekerja dan menjadi hamba Gubermen demi nafkah dan kesenangan hidup. Di sisi lain, ia harus mengendalikan kegiatan Minke, yang diakuinya sebagai seorang yang sangat dihormatinya.
“Nuraniku tergoncang. Apa yang harus kulakukan terhadap dia? Dia bukan penjahat, bukan pemberontak…Dia hanya terlalu mencintai bangsa tanah airnya Hindia…” (hlm. 7). Itulah gambaran awal pergulatan batinnya.
Meski memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, Pramoedya sendiri menegaskan bahawa novel-novelnya tetap harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah (dalam wawancara 17 Jun 1991).
|1 Comment » |Judul : Pangeran Pencuri – Herr Der Diebe
Penulis : Cornelia Funke
Penerjemah : Hendarto Setiadi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2006
Tebal : 420 hlm
Buku yang mengisahkan petualangan Prosper (12 th) & Bo (5th) yang melarikan diri ke kota Venesia dari bibi Esther yang hendak memisahkan dua bersaudara tersebut sunguh memikat! Mengingatkanku akan buku-buku petualangan yang dulu suka kubaca seperti lima sekawan, STOP, etc
Di Venesia – Italy, Prosper & Bo bertemu dengan sekelompok anak yang diketuai oleh Scopio yang dijuluki “Pangeran Pencuri”. Prosper dan Bo pun kemudian menjadi bagian dari “keluarga besar” anak-anak pencuri itu dan tinggal bersama merka di sebuah bangunan bekas bioskop tanpa diketahui siapapun. Hasil curian Pangeran Pencuri mereka jual pada Barbosa – Si Janggut Merah, pemilik toko barang antik yang juga seorang penadah, hasilnya mereka gunakan untuk membeli makanan dan berbagai kebutuhan mereka.
Sementara itu paman dan bibi Prosper dan Bo yang kehilangan keponakannya, menyewa seorang detektif untuk mencari kedua anak yatim piatu itu.
Cerita menjadi semakin seru ketika Pangeran Pencuri ditawari Barbarosa untuk mencuri sebuah potongan kayu dirumah Ida Spavento dengan bayaran lima juta lira. Potongan kayu tersebut ternyata adalah sayap singa dari sebuah komedi putar ajaib yang konon dapat mengubah anak-anak menjadi dewasa, dan orang dewasa menjadi anak-anak hanya dalam beberapa putaran saja. Kelompok anak-anak pencuri ini terseret hingga mengunjungi pulau Isola Segrata yang angker dimana tak seorangpun berani mengunjunginya karena setiap orang yang bertandang ke pulau tersebut selalu hilang secara misterius dan tak pernah kembali. Berhasilkah Pangeran pencuri dan kelompoknya menuntaskan misi? Berhasilkah mereka menemukan komedi putar ajaib dan beranikah mereka mencobanya untuk menjadi dewasa ?
Lewat buku ini pembaca diajak menikmati ke-eksotisan kota Venezia yang terkenal dengan kanal-kanal dan gondolanya, kemegahan gedung-gedung antik berusia ratusan tahun dan juga patung-patung yang menghiasi setiap bangunan dan plazanya. Namun dibalik keindahannya Venezia juga menyimpan keruwetan jalan-jalan nya yang sering membingungkan turis, bahkan penduduk asli kota inipun tak jarang tersesat. Rupanya landskap kota yang sangat baik untuk tempat bersembunyi inilah yang mengilhami penulis untuk membuat cerita dengan setting kota Venesia yang tokoh-tokohnya harus menyembunyikan diri dari orang yang tidak diinginkannya.
Terlepas dari kisah petualangan yang original & menghibur, buku ini juga sarat akan makna dan nilai-nilai positif kehidupan seperti rasa kekeluargaan, kepedulian, dan realita mimpi masa kanak-kanak yang mungkin telah banyak dilupakan oleh orang dewasa.
Sungguh sebuah novel yang layak disimak tidak hanya oleh remaja, tapi oleh semua para kutukutubuku.
Tentang Penulis – Cornelia Funke, adalah penulis novel anak-anak pra remaja kelahiran Jerman. Funke termasuk penulis yang produktif, sekitar 40 buah novel telah dihasilkannya. Publik buku dunia mulai mengenal namanya ketika salah satu karyanya Pangeran Pencuri ( Herr der Diebe, 2000) diterjemahkan kedalam bahasa Inggris pada tahun 2002 (The Thief Lord, Scholatic, 2002). Setelah itu itu secara berturut-turut 5 buah novel-novel karyanya diterjemahkan kedalam bahasa Inggris yaitu : Inkheart (2003), The Prince Knight (2004), Dragon Rider (2004), Pirate Girl (2005), Inkspell (2005).
|7 Comments »|












