Selamat ulang tahun yang ke-63 Indonesia tercinta! Dalam kesempatan ini, rasanya cocok untuk mereview sesuatu (buku?) yang berbau nasionalisme. Berpikir tentang sastra dan nasionalisme dan satu kesatuan, rasanya tidak mungkin melewatkan nama penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer
Tetralogi Buru adalah nama untuk empat novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988 dan kemudian dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Pemerintah Indonesia menuduh bahwa karya-karyanya mengandung pesan Marxisme-Leninisme yang dianggap tersirat dalam kisah-kisahnya.
Tetralogi Buru ini mengungkapkan sejarah keterbentukan Nasionalisme pada awal Kebangkitan Nasional, dan pengukuhan atas seorang yang bernama Tirto Adhi Soerjo yang digambarkan sebagai tokoh Minke.
Keempat buku tersebut adalah (disertai tahun penerbitan dan pelarangan)
1. Bumi Manusia (1980; 1981)
2. Anak Semua Bangsa (1981; 1981)
3. Jejak Langkah (1985; 1985)
4. Rumah Kaca (1988; 1988)
Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimentil: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu …. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
Roman kedua Tetralogi, Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah pribumi yang tak berdaya melawan kekuatan raksasa Eropa. Di titik ini Minke diperhadapkan antara kekaguman yang melimpah-limpah pada peradaban Eropa dan kenyataan selingkungan bangsanya yang kerdil. Sepotong perjalanannya ke Tulangan Sidoarjo dan pertemuannya dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa, korespondensinya dengan keluarga Dela Croix (Sarah, Miriam, Herbert), teman Eropanya yang liberal, dan petuah-petuah Nyai Ontosoroh, nertua sekaligus guru agungnya, kesadaran Minke tergugat, tergurah, dan tergugah, bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala jaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya (Melayu) dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.
Roman ketiga Tetralogi, Jejak Langkah, bercerita tentang sejarah pergerakan dan perkembangan media di Indonesia pada tahun 1906-1910. Menurut Pram–dalam Novelnya–syarikat Priyayilah yang merupakan awal berdirinya organisasi pertama di Indonesia.
Meski demikian Pram juga tak hendak menunjukkan keberhasilan Syarikat Priyayi maupun Budi Utomo. sebaliknya, Pram menyadarkan kita mengapa Belanda bisa bercokol berabad-abad di negeri ini? Karena kekuasaan raja-raja justru menghamba pada Belanda. Mungkin satu-satunya pujian Pram dalam buku Jejak Langkah adalah Pada Perang puputan, Bali. Dimana Belanda harus berkorban sekitar 15.000 tentara melawan rakyat bali.
Pun kegagalan Organisasi juga tak luput dari kritik Pram. Organisasi Budi Utomo terlalu elitis. tak ada rakyat yang bisa jadi anggotanya. anggota Budi Utomo hanyalah kaum Priyayi dan bangsawan belaka (makanya, watak elitis itu dipertahankan hingga sekarang dengan terus mengagung-agungkan Budi Utomo yang dianggap sebagai Kebangkitan nasional. padahal sejatinya perayaan itu adalah kebangkitan kaum priyayi Indonesia).
Meski begitu Jejak langkah juga romantis dengan kisah-kisah Percintaan Minke(tokoh Utama) dengan Aung sang Lie(aktifis tiongkok) dan putri Campa, termasuk juga pengungkapan Pram bahwa Tokoh Utama Tetralogi Pulau Buru adalah Pria Mandul.
Roman keempat Tetralogi, Rumah Kaca, secara garis besar, berkisah tentang usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam memonitor gerakan rakyat Indonesia. Di buku ini terjadi perubahan tokoh utama dari Minke ke Pangemanann, yang adalah seorang Indonesia yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.
Pergulatan hebat terjadi pada tokoh Pangemanan dimana di satu sisi, ia bekerja dan menjadi hamba Gubermen demi nafkah dan kesenangan hidup. Di sisi lain, ia harus mengendalikan kegiatan Minke, yang diakuinya sebagai seorang yang sangat dihormatinya.
“Nuraniku tergoncang. Apa yang harus kulakukan terhadap dia? Dia bukan penjahat, bukan pemberontak…Dia hanya terlalu mencintai bangsa tanah airnya Hindia…” (hlm. 7). Itulah gambaran awal pergulatan batinnya.
Meski memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, Pramoedya sendiri menegaskan bahawa novel-novelnya tetap harus dibaca sebagai karya fiksi, bukan sebagai buku sejarah (dalam wawancara 17 Jun 1991).











August 21st, 2008 at 12:12 pm
PRAM adl penulis favorit saya
TETRALOGI BURU, masterpiece-nya, adl buku favorit saya… nggak pernah bosen baca keempat novel ini berulang-ulang kali, huhuhu..